Mengatasi Jet Lag Saat Berwisata ke Luar Negeri

Istilah jet lag sudah tak asing lagi bagi para traveler. Mereka yang terbiasa melancong ke luar negeri umumnya sudah pernah merasakan “sedap”-nya kena jet lag. Saya sendiri merasakan begitu dahsyatnya jet lag, saat harus melintasi sejumlah zona waktu yang berbeda mulai dari Benua Asia sampai Amerika Latin lima tahun silam. Jet lag makin terasa saja lantaran pesawat yang saya tumpangi adalah jenis Airbus A330-341, yang terpaksa transit di Jepang dan Amerika Serikat untuk mengisi avtur. Bukan jenis Boeing 747, apalagi Airbus A380 yang bisa melakukan perjalanan jauh tanpa perlu transit beberapa kali.

 

Tapi faktanya, jenis pesawat sebenarnya tak terlalu berpengaruh pada jet lag. Mau naik pesawat besar maupun sedang, sebenarnya sama saja. Soalnya, jet lag sebenarnya adalah problem fisiologis tubuh manusia yang kaget karena perbedaan zona waktu. Rasa kagetnya badan manusia itu berdampak pada lambannya fase adaptasi tubuh pada zona waktu negara yang kita tuju.

 

Sebelum traveling jarak jauh, saya sudah mengumpulkan beberapa informasi bagaimana mempersiapkan diri menghadapi jet lag. Ya, anda yang ingin berwisata ke luar negeri, ke Eropa atau Amerika, tak perlu cemas kalau mesti menghadapi jet lag. Ini tak bisa dihindari, jadi nikmati saja. Kalau enggan menghadapi jet lag, ya tak usah ke luar negeri…

 

Berikut ini saya sharing pengalaman saya, semoga bisa menambah pengetahuan terutama bagi anda yang baru kali pertama ke luar negeri.

 

Pertama, yang saya lakukan seminggu sebelum berangkat adalah olah raga. Tiap pagi sekitar pukul enam, saya jogging di sekitar rumah. Tak perlu lama, cukup 30 – 45 menit.

 

Kedua, saya memperbanyak minum air putih lebih dari biasanya. Saya mengurangi minuman seperti kopi, teh, minuman bersoda, apalagi minuman beralkohol.

 

Ketiga, saya mempercepat waktu tidur malam. Yang biasanya tidur jam 22.00 wib saya ubah ke jam 20.00 wib.  Memang berat rasanya apalagi mata belum ngantuk, tapi sebisa mungkin saya pejamkan mata.

Keempat, sebelum tidur saya sempatkan meditasi sederhana. Cukup dengan duduk rileks, memejamkan mata, menarik nafas dan melepas nafas lewat hidung dengan ritme yang halus, akan lebih mudah mengajak badan untuk tenang.

Meditasi dapat mengurangi gejala jet lag
Meditasi dapat mengurangi gejala jet lag

 

Tentu saja itu saya lakukan setelah semua urusan dokumen dan bekal keberangkatan sudah beres. Urusan seperti visa, bekal baju, makanan, obat-obatan, usahakan sudah kelar minimal tiga hari sebelum hari keberangkatan.

 

Itu berlaku bagi anda yang niatnya perjalanan jauh ke luar negeri murni untuk wisata. Bagi anda yang harus ke luar negeri karena urusan dinas, pekerjaan , dan sejenis itu, mungkin anda akan lebih dikejar-kejar waktu. Ribet rasanya. Seperti pengalaman saya tahun 2008 silam, sampai hari keberangkatan di bandara pun visa saya tidak keluar. Untungnya, karena berangkat untuk urusan diplomatik, visa bisa dikeluarkan di negara tujuan.

 

Nah, kalau sudah di dalam pesawat, tak ada pilihan lain kecuali menikmati penerbangan. Berbagai hiburan untuk mengurangi jenuh sudah disediakan di masing-masing kelas. Tentu, jangan lupa untuk berdoa dulu agar selamat sampai tujuan. Doa itu penting. Jangan sampai muncul rasa takabur bahwa semua teknologi canggih dan pengaman dalam pesawat menjadi faktor utama keselamatan penerbangan.

Sebelum bepergian, jika dianggap perlu, anda boleh berkonsultasi dengan dokter. Misalnya terkait dengan obat-obatan yang perlu dibawa. Atau, jika anda punya masalah dengan gangguan tidur, biasanya dokter akan meresepkan obat yang aman untuk anda bawa dalam perjalanan.

 

Selamat berwisata !