Terhindar dari Penipu Berdasi

May 19, 2011 · Posted in umum 

Ini adalah kisah nyata dari seseorang yang telah memiiki radar tenaga dalam sejak tahun 1990-an. Sebut saja nama orang ini Adi, masih muda usianya, sekitar 23 tahun saat peristiwa ini terjadi pada tahun 2002.

Ketika itu Adi baru saja lulus kuliah dari sebuah perguruan tinggi negeri (PTN) di Jawa Timur. Sebagai lulusan fresh graduate, Adi sangat bersemangat memasuki dunia kerja yang penuh tantangan dan lika-liku. Dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia perkuliahan di kampus ataupun organisasi estrakurikuler mahasiswa.

Berbeda dengan lulusan lain yang lebih memilih Surabaya atau Jakarta sebagai tujuan perantauan, Adi justru memilih Bali sebagai daerah pertama yang ingin ia jajal peruntungannya disana. Tidak ada yang salah memang dengan memilih Bali sebagai tempat mencari pekerjaan. Bali dikenal dengan industri pariwisatanya yang sudah tidak perlu diragukan lagi, apalagi ketika itu, belum terjadi peristiwa Bom Bali I.

Adi pun mencoba melamar ke beberapa perusahaan dan dia pun diterima di sebuah perusahaan yang baru berdiri di kawasan Seminyak, Denpasar. Perusahaan baru ini bergerak di bidang ekspor impor hasil pertanian. Sebut saja nama perusahaannya PT KT. Rupanya, Adi tampak menonjol bila dibandingkan dengan karyawan lainnya yang juga masih baru. Hal ini menarik perhatian sang boss, sebagai direktur utama. Inisialnya IW.

Adi langsung diangkat sebagai manajer operasional, padahal dia belum berpengalaman. Gaji yang dijanjikan cukup besar untuk saat itu. Adi juga memimpin perekrutan karyawan baru, yang mencapai 30-an orang. Adi bahkan ditugasi memimpin rapat-rapat penting bila IW tidak ada di tempat.

Entah mengapa, dengan semua perkembangan itu, perasaan Adi tidak enak. Adi lantas meminta pendapat saya, dan saya katakan agar menghidupkan radar tenaga dalam yang sudah ia miliki.

Suatu hari, tersiar kabar di kantor tersebut, bahwa IW menghamili kekasihnya yang konon anak seorang tokoh terpandang di wilayah dimana kantor PT KT itu berdiri. Menurut Adi, pacar IW memang cukup cantik dan sering masuk ke ruang direktur utama. Para karyawan lainnya tidak mau ikut campur dan mengusik sang boss dengan kehidupan pribadinya itu, meskipun menjadi gunjingan tersendiri.

Adi mulai merasakan ketidakberesan di perusahaan itu, manakala tujuan dan aktivitas produksinya tidak jelas. Katanya bergerak di bidang ekspor impor, namun sama sekali belum ada kejelasan program kerja. IW memang menyewa sejumlah mobil dari sebuah rent car, dan beberapa mobil sewaan itu diakuinya sebagai mobil operasional perusahaan untuk sementara waktu. Namun aktivitasnya juga tidak jelas pula. 30-an karyawan yang direkrut setiap hari kerjanya hanya duduk-duduk di ruang kerja masing-masing.

Di hari berikutnya, IW mengumpulkan seluruh karyawannya, termasuk Adi. IW meminta seluruh karyawan menyetorkan uang sebesar Rp 2,5 juta sebagai uang muka kredit sepeda motor. IW mengaku akan membantu sisa kredit sepeda motor para karyawan. Dia berdalih tak ingin karyawannya terlambat masuk kantor, dan sangat disarankan mengambil kredit motor.

Karena meyakinkan, hampir seluruh karyawan pun menyiapkan uang yang diminta. Begitu pula dengan Adi, yang menyetorkan uang dari hasil pinjaman orang tuanya di Jawa. Langkah Adi itu diikuti para karyawan yang lain.

Namun suatu hari, tanpa diduga, sang manajer keuangan, seorang wanita berusia sekitar 35 tahun, sebut saja namanya Ny Wati, mohon ijin memasuki ruangan Adi. Tentu saja, sebagai bawahan Adi, Ny Wati pada awalnya takut menyampaikan sebuah informasi penting ini. Ny Wati khawatir Adi adalah sahabat atau rekan dekat dari IW. Setelah Adi berhasil menegaskan bahwa dirinya juga sama dengan karyawan lain, yang baru saja masuk dan tak ada hubungan keluarga maupun hubungan emosional dengan IW, barulah Ny Wati mau berterus terang. Wanita ini membawa sebuah foto IW yang tengah bersalaman dengan seseorang. Foto itu ia peroleh dari kerabatnya di Jawa Tengah dan merasa ada kemiripan wajah dengan sang boss, Ny Wati pun berusaha mengkonfirmasinya ke Adi.

Lantas, apa informasi penting itu ?

Berdasar pada keterangan kerabatnya, Ny Wati menyampaikan bahwa IW adalah buronan kepolisian alias DPO (daftar pencarian orang). IW diduga terkait dengan penipuan di Jawa Tengah dengan modus menipu karyawan baru melalui kredit kepemilikan motor. Kerugian para korban di Jawa Tengah itu mencapai ratusan juta rupiah. Uang dari puluhan karyawan itu dilarikan oleh IW, dan diduga IW akan mengulangi modusnya di Bali tersebut.

Spontan saja, Adi terkejut. Adi yang telah mempunyai radar tenaga dalam dan terlanjur masuk dalam lingkaran setan, berusaha untuk melepaskan diri. Adi dengan bekal petunjuk ilmu yang dia miliki, memohon kepada Yang Kuasa, agar diberikan jalan untuk menarik uangnya yang sudah terlanjur disetorkan sebagai uang muka kredit motor itu. Namun, Adi tidak memberitahu karyawan lainnya soal informasi Ny Wati ini, karena Adi masih khawatir dia salah sangka. Adi lebih memilih untuk mengamankan dirinya terlebih dulu.

Adi akhirnya berhasil meminta uangnya kembali dari tangan IW. Uang hasil pinjaman itupun selamat dan dikembalikan ke orang tuanya. Adi masih berusaha berprasangka baik terhadap IW, siapa tahu IW ini orang yang tidak sama dengan gambar foto yang ditunjukkan oleh Ny Wati.

Setelah uang selamat, Adi memutuskan untuk resign. Begitu pula dengan Ny Wati. Kedua orang ini mundur pada saat yang hampir bersamaan. Mereka pun saling berterima kasih dan berpisah serta mendoakan masing-masing agar senantiasa dilindungi Tuhan.

*******

Sekitar dua bulan kemudian, Adi yang telah bekerja di sebuah perusahaan lain di Bali, membaca koran lokal setempat. Sebuah berita yang menjadi headline halaman satu menjadi pusat perhatiannya. Isi berita itu adalah: puluhan karyawan PT KT dan pemilik rent car melaporkan tindakan IW ke kepolisian setempat dengan tuduhan menggelapkan uang kredit motor, sewa mobil yang tidak dibayar serta tidak digajinya para karyawan selama tiga bulan bekerja. IW telah kabur entah kemana dan ditetapkan oleh kepolisian di Bali sebagai DPO. Menurut keterangan karyawan PT KT kepada polisi, motor kredit yang dijanjikan tidak ada satu pun yang datang, dan selama tiga bulan para karyawan tidak digaji dengan alasan belum ada pemasukan dari ekspor impor hasil pertanian. Uang para karyawan ini sudah lenyap. Ditambah lagi kerugian moril yang mereka derita karena malu dan gagal mendapatkan hasil dari jerih payah bekerja selama ini, yang seharusnya digunakan untuk menghidupi keluarga masing-masing. (*)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Comments

Leave a Reply