Pernikahan Tidak Bahagia Bikin Anda Tersiksa

Untuk apa anda menikah? Sekadar ingin punya keturunan, atau mewujudkan keinginan idealis: mewujudkan cinta sejati? Atau, menikah karena paksaan orang tua? Atau mungkin, ingin hidup bahagia dengan orang yang anda cintai? Lantas bagaimana kalau justru pernikahan tidak bahagia yang mesti anda rasakan?

 

Kalau pernikahan tidak bahagia yang anda alami sekarang ini, maka percayalah kalau anda tidak sendirian. Di pengadilan agama atau pengadilan negeri, nomor register kasus perceraian itu angkanya sudah ribuan.

 

Kalau dari berkas perkara yang ribuan itu diteliti satu per satu, maka anda akan ketemu dengan satu pokok masalah. Yang menjadi biang atau akar konflik rumah tangga. Yang jadi pemutus ikatan perkawinan itu.

 

Saya sudah pernah menulisnya. Beberapa kali.

 

Pokok masalah itu adalah : salah satu atau kedua belah pihak yakni suami istri tidak menguasai ilmu hak dan kewajiban suami istri. Yang harusnya dimengerti sungguh-sungguh sebelum memutuskan menikah.

 

Itu juga yang ditunjukkan Ny Vina (nama samaran). Wanita 29 tahun itu memberikan screenshot isi di balik map gugatan perceraian. Map itu merupakan paket pemberian dari sebuah Pengadilan Agama di Jawa Timur. Fungsinya untuk menyimpan berkas gugatan.

 

Ada nasihat keagamaan di bagian atas.

 

Di bagian tengah, potret suami istri dengan 2 orang anak.

 

Dan di bagian bawahnya, ada kutipan Pasal 34 UU No 1/1974 Tentang Perkawinan.

 

Isi lengkapnya anda bisa googling sendiri.

 

Pasal 34 sendiri masih ada kaitannya dengan Pasal 33 dan Pasal 32.

pernikahan tidak bahagia bisa dialami oleh siapapun. penyebabnya juga sangat beragam.

 

Keputusan Tegas itu Mutlak Diambil

 

Intinya, semua pasal itu mengatur tentang hak dan kewajiban suami istri.

 

Ny Vina adalah salah satu wanita yang merasakan kehidupan pernikahan tidak bahagia. Dia menjalani kehidupan yang tidak gampang saat suaminya terjerumus narkoba.

 

Dan setelah melakukan pertimbangan serta mendengar saran dari orang-orang yang dia percaya, ibu satu anak itu teguh mengambil keputusan.

 

Di bagian lain, tak semua wanita yang menjalani pernikahan tidak bahagia bisa mengambil keputusan tegas seperti Ny Vina.

 

Faktanya, hati yang lemah, tidak tahan banting, atau karena ada konflik kepentingan, membuat seseorang gamang dalam memutuskan langkah. Pikirannya berputar-putar tak karuan.

 

Atau kalau tidak, rela menjadi penikmat derita.

 

Atau, justru merasa senang dikasihani, senang saat orang lain bersimpati terhadap penderitaannya.

 

Itulah tipikal orang-orang yang bermasalah dalam kehidupan rumah tangganya.

 

Kalau anda tidak mendapatkan kedamaian dari perkawinan bersama pasangan, maka pernikahan itu hanya akan menjadi siksaan luar biasa.

 

Tapi, Anda boleh kok memilih untuk menjadi penikmati derita.

 

Anda tidak perlu mengambil keputusan berpisah yang mengecewakan itu.

 

Yang penting anda siap dengan konsekuensinya.(*)